101rows Di dalam hikayat tersebut banyak sekali kata-kata arkais yang bisa Anda temukan berikut adalah beberapa contoh kata arkais dalam hikayat si miskin. Hikayat banyak menggunakan kata arkais. Data 1 Maka sahut dayang-dayang itu Tun puteri lagi bermain-main di dalam taman karena tuan puteri lagi masygul akan tunangannya yang di Terenggano itu. Sembahsegala raja-raja itu "Ya tuanku Syah Alam, orang melempar si Miskin tuanku". Maka titah baginda, "Suruh usir jauh-jauh!". Maka diusir oranglah akan si Miskin hingga sampailah ke tepi hutan. Maka orang banyak itupun kembalilah. Maka haripun malamlah. Maka bagindapun berangkatlah masuk ke dalam istanannya itu. Hikayatmasih menggunakan bahasa arkais, bahasa arkais adalah bahasa yang umumnya digunakan pada masa lampau, yang pada masa kini banyak yang tidak memahami kata demi kata dari bahasa arkais ini, Contohnya syahdan, titah, uoeti, bejana dan sebarmula. Jenis-Jenis Hikayat Dibawah ini merupakan 2 jenis hikayat yang umum dipakai, atau biasa digunakan. Katakata arkais dalam cerita hikayat si miskin dan temukan makna nya dengan kamus besar bahasa indonesia . astinaastinajaozyy14 Kata arkais dapat diganti dengan KETINGGALAN JAMAN, SANGAT KUNO SEMOGA BERMANFAAT . 1 votes Thanks 2. astinaastinajaozyy14 sma2 . NILAIMORAL, SOSIAL, RELIGIUS, PENDIDIKAN DAN BUDAYA HIKAYAT SI MISKIN 1. Nilai Moral -Jangan terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain. -Jangan mudah iri kepada orang lain, karena hal tersebut dapat mendorong kita untuk berbuat hal yang tidak baik. 2. Nilai Budaya Kataarkais biasanya di gunakan untuk awalah berbagai istilah dan penggunaan kata arkais sering ditemukan dalam kaidah teks hikayat. Dengan kata arkais, para pembaca juga bisa mengatahui berbagai kosakata yang populer di zaman dulu. 3. Gaya Bahasa 6fOjz. Contoh Kata Arkais Dalam Hikayat dan Penjelasannya yang Benar – Kata arkais, setelah membacanya kamu mungkin merasa tidak familiar. Hal tersebut wajar mengingat saat ini memang hampir kebanyakan orang tidak mengetahui apa itu kata arkais. Nah, bagi kamu yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kata arkais, di bawah ini Mamikos akan berikan ulasan selengkapnya mengenai apa itu kata arkais dan contohnya. Selamat Menyimak! Apa yang Dimaksud dengan Kata Arkais dalam Hikayat?Daftar IsiApa yang Dimaksud dengan Kata Arkais dalam Hikayat?Bagaimana Contoh Kata Arkais dalam Hikayat?Daftar Contoh Kata Arkais dalam Hikayat Daftar Isi Apa yang Dimaksud dengan Kata Arkais dalam Hikayat? Bagaimana Contoh Kata Arkais dalam Hikayat? Daftar Contoh Kata Arkais dalam Hikayat Kamu mungkin memiliki banyak pertanyaan seputar kata arkais dalam benakmu. Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut Mamikos akan memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang apa itu kata arkais dalam hikayat. Seperti yang sudah Mamikos singgung sebelumnya, kata arkais merupakan sebuah kata yang sudah jarang atau bahkan tidak dipakai lagi oleh banyak orang. Hal ini sesuai dengan arti kata arkais secara etimologi, di mana kata ini berasal dari bahasa Yunani yang artinya “Suatu masa yang lebih awal serta tidak digunakan lagi atau sebuah hal yang mempunyai ciri khas yang kuno/antik.” Kemudian, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI kata arkais diartikan sebagai suatu hal yang berhubungan dengan zaman dahulu serta berciri kuno atau tidak lazim dipakai lagi tentang kata. Berdasarkan definisi tersebut, kata arkais dapat dipahami sebagai sebuah kata di masa lalu yang saat ini sudah tidak digunakan lagi. Namun, biasanya kata ini muncul dalam cerita hikayat masa lampau. Bagaimana Contoh Kata Arkais dalam Hikayat? Setelah memahami apa itu kata arkais melalui ulasan singkat di atas, kamu juga mungkin penasaran dan ingin mengetahui bagaimana bentuk atau contoh kata arkais dalam hikayat. Sebenarnya, ada banyak sekali kata arkais yang biasa digunakan dalam cerita-cerita hikayat. Nah, untuk menjawab rasa penasaran kamu, di bawah ini Mamikos berikan daftar contoh kata arkais dalam hikayat yang dapat kamu ketahui! Daftar Contoh Kata Arkais dalam Hikayat Berikut adalah 166 contoh kata arkais dalam hikayat beserta artinya Kata Arkais yang Diawali Huruf A Abaimana = Kemaluan; Dubur Abid = Kekal; Abadi Abilah = Penyakit cacar Abnus = Kayu arang Abun-abun = Angan-angan Acik = Kakak perempuan; bibi Adicita = Ideologi Adiraja = Gelar raja tertinggi Ahkam = Hukum, undang-undang Aja = Gelar putri bangsawan Akil = Berakal; Cerdik; pandai Alamas = Intan Ambah = Pertukangan Anggara = Buas; liar Anju = 1. Percobaan hendak melangkah, melompat, dsb.; Ancang-ancang; 2. Maksud; tujuan. Kata Arkais yang Diawali Huruf B Bad = Angin Bagul = Menggendong; Mendukung Bahalan = Bengkak bernanah pada selangkangan Balabad = 1. Atas angin; 2. Angin darat; Angin pegunungan Banang = Besar pada jenisnya Bedegap = Kuat; Tegap Begu = Hantu hutan Belabas = Kain sutra berbenang emas Belangah = Terbuka lebar-lebar; Ternganga; Menganga Belu belai = 1. Banyak mulut; Cerewet 2. Kata-kata lembut dan manis Bembarap = Tandu untuk mengangkat orang Bengah = 1. Dalam keadaan duduk dengan menegakkan badan dan kepala; 2. Sombong; angkuh; Pongah Benyai = Terlalu lembek; Terlalu lunak seperti nasi yang terlalu banyak airnya Berenggil = Menonjol tersembul ke luar seperti mata kepiting, biji jambu monyet Berus/memberus = Sikat/Menyikat Bocok = Kelambu penutup buaian bayi Bokoh = Lemah; Lembik Bungar = Pertama kali keluar tentang telur, buah, bunga, dan sebagainya Buar= Suka menghamburkan uang; Boros; Royal Bungkas = Terjungkit pada ujungnya atau pada pangkalnya Boyas = Buncit; Gendut Bungsil = Putik nyiur; Mumbang Buntal = Gembung; Buncit Buldan = Negeri; Kota Bujut = Kusut benang, rambut, dan sebagainya Kata Arkais yang Diawali Huruf C Cabar = 1. Hilang dayanya; Tidak manjur tentang guna-guna dsb.; 2. Tawar otentang hati, keberanian 3. Kurang ingatan; Lalai; Lengah; 4. Kurang tidak hemat Cacil = Amat kecil jika dibandingkan dengan pasangannya atau yang lainnya Caduk mencaduk = Mengangkat atau menaikkan kepala, ujung belalai, dsb. Cagut mencagut = Memagut; Mencatuk; Mematik Caring mencaring= Melanggar hak Celapak mencelapaki = Mengangkangi Celih = Malas-malas; Segan-segan Celuk = Memasukkan tangan untuk mengambil sesuatu; 2. Mencopet; Mencuri Cempelik = Permainan judi dengan dua keping mata uang yang dilemparkan ke atas Cempera bercempera = Pecah belah; Berhamburan; Bercerai-berai Cempiang = Pendekar; Pagoan Cengis = Berbau sangat sangit Cerabih mencerabih = Bercakap-cakap tidak keruan; Banyak omong; Berseloroh Ceratai mencerataikan = Menceritakan mempercakapkan dengan ramai Cerling = Melihat ke sebelah kanan atau kiri; Menjeling; Mengerling Cerut = Mebelit mengikat dsb. erat-erat seperti ular besar membelit mangsanya Cetai bercetai-cetai = Robek panjang di beberapa tempat tentang kain dsb.; Cabik-cabik; Koyak-koyak; Cicik = Jijik Cilap = Kelip; Kedip Cogok tercogok = Tertegak; Terconggok Cola cala = Bercakap bercerita yang bukan-bukan; Beromong kosong; Membual Colang-caling = Tidak teratur; Tidak keruan; Comor = Kotor sekali Kata Arkais yang Diawali Huruf D, E, F, G, H, dan I Daduk mendaduk = Mengemis Damal = Maju perlahan-lahan tentang kapal Dangkar mendangkar = Menggulung Dawat = Tinta Dayus = Hina budi pekertinya Dedar = Berasa panas tentang badan Dedau = Berteriak menjerit nyaring-nyaring Demap = Rakus Derana = Tahan dan tabah menderita sesuatu tidak lekas patah hati, putus asa, dsb. Dergama = Fitnah Embal = Belum kering benar, lembab Empul = Terkatung-katung tidak dapat maju tentang perahu Erot mengerotkan = Memencongkan mulut Fusta = Perahu kapal Fusuk = Perbuatan yang menyimpang dari jalan yang benar menurut agama Gerbas-gerbus = Berbunyi berdesau-desau Geracak = Berbunyi seperti air menggelegak Giris = Ketakutan; Sangat takut Goak, bergoak-goak = Berteriak keras-keras, Berkoar-koar Gumbuk, menggumbuk = Membujuk Hamun = Caci maki yang sangat kasar; Sumpah serapah Hidu menghidu = Mencium bau, membaui Hembalang, berhembalang = Berguling-guling; Pontang-panting Ikhbar = Penyampaian berita, pengabaran Ili, mengili = Menyelamatkan diri ke tempat yang aman; Mengungsi Inca = Kacau Inca-binca = Kacau balau Incit = Enyahlah, pergilah Kata Arkais yang Diawali Huruf J dan K Jamadat = Benda padat yang tidak bernyawa, seperti batu, kayu Jampuk, menjampuk = Memotong menyela pembicaraan orang Jamung = Suluh yang dibuat dari daun nyiur kering ; Obor Jangak = Tidak senonoh tingkah lakunya, risau; Cabul Jangkih-mangkih = Tidak keruan atau tidak teratur; Terserak-serak; Jongkang-jangking Jelabak, terjelabak = Roboh; Runtuh Jelanak, menjelanak = Menyelinap menyuruk, merayap di bawah dedaunan dsb. Jelangak, menjelangak = Mendongak Jelau, menjelau = Menjenguk Jendera = Nyenyak tentang tidur; Lena Jengking, menjengking = Menungging Jerangkah = Bercabang-cabang Jujut, menjujut = Menarik tali dsb. Kabir, mengabir = Meraih, mengayuh dengan satu pengayuh Kadera = 1. Kursi; 2. Tandu; Usungan Kaftan = Baju Panjang Kalakian = Ketika itu; Lalu; Kemudian Kalar = Leher Baju Kanjal = Terhenti karena terhalang dsb. Karut, berkarut = Kusut; Kacau tidak keruan Karut-marut = 1. Kusut kacau tidak keruan; Rusuh dan bingung tentang pikiran, hati, dsb.; Banyak bohong dan dustanya tentang perkataan dsb.; 2. Berkerut-kerut tidak keruan tentang muka, wajah, dsb. Kasam = Dendam kesumat Katah, terkatah-katah = Terguling-guling; Terpelanting Kayai, mengayaikan = Menguatkan diri untuk berdiri Kecumik = Mulut yang bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara Kedau, mengedau = Berteriak minta tolong dsb. Kekas, mengekas = Mengais tentang ayam Kelambur = Berkerut-kerut; Kisut Keranta = Kutu yang tampak pada tubuh orang yang akan mati Keriau, berkeriau = Berteriak; Memekik-mekik Kesut, terkesut-kesut = Susah dan ketakutan Kincau, mengincau = Mengaduk; Mencampur Kinjat, terkinjat = Terloncat; Tersentak; Terperanjat Kipai, mengipaikan = Mengibas-ngibaskan ekor Kusat-mesat = Sangat kusut Kata Arkais yang Diawali Huruf L Lalak, melalak = Menyala; Terbakar; Meletup Lalang, melalang = Mengembara; Pergi ke mana-mana Larat = 1. Hanyut dan tidak menyangkut; 2. Bertambah jauh panjang, luas, mendalam, dsb. 3. Pergi jauh meninggalkan kampung halaman; 4. Sedih sekali; melantur-lantur 5. Iba; Terharu Langguk = Congkak; Sombong Langis = Habis binasa punah seluruhnya; Tumpas Lebas, melebas = Menyebat; Memukulkan rotan, cambuk, dsb. Lecah = Berlumpur; Tempat becek Lejar = Sangat penat; Sangat capai Lekam, melekam = Memegang erat-erat dengan telunjuk dan ibu jari Lelar, memperlelar = Memakai sesuatu berulang-ulang; Mengulang-ulang pekerjaan, perkataan, dsb. Lenggong, melenggong = Ternganga keheranan Lengkang = Menjadi lebar tentang cincin, gelang, kail, tangkai kacamata, dsb. Lerak = Rusak tercerai-cerat Letai = Lemah sekali; Tidak berdaya; Lesu Limbak, berlimbak-limbak = Bertimbun-timbun; Bertumpuk-tumpuk Lohok = Busuk sekali Lucah = Keji; Cabul; Hina sekali; Tidak sopan; Tidak senonoh Kata Arkais yang Diawali Huruf M, N, dan O Mahajana = Orang yang amat ternama; Orang besar; Masyarakat umum Maharana = Perang besar Mahardika 1. Berilmu cerdik, pandai, bijaksana; 2. Berbudi luhur; 3. Bersifat bangsawan Maherat = Pergi melarikan diri; Hilang Majal = Tumpul; Tidak tajam Majuh = Lahap, rakus Majun = Jamu atau obat kuat untuk laki-laki yang dibuat dari bermacam-macam ramuan yang membuat badan menjadi terasa hangat, sehat, kuat, dan bersemangat muda Makam = Tempat tinggal; Kediaman Manggah = Sesak nafas asma Muruah = Harga diri; Martabat Megak = 1. Pemberani; Tidak takut-takut; 2. Sangat angkuh Monyos = 1. Mendapat malu karena kalah dsb.; 2. Malu; Kemalu-maluan Mumbung = Sangat penuh isinya hingga melebihi ukuran tetapi tidak sampai melimpah Nahak, ternahak = Bangkit tentang perasaan, selera, dsb. Nasakh, menasakhkan = Menghapuskan; menghentikan Natang = Tingkap atau jendela kecil Natijah = Kesimpulan Nuraga = Simpati; Berbagi rasa Nyanyah, menyanyah = Selalu berkata yang bukan-bukan; Merepek Nyenyal = Tidak kerap, tidak padat, atau tidak rapi tentang anyaman, tenunan, jahitan; jarang Nyenyat = Sunyi senyap Obar = Kobar Ongah-angih = Goyah-goyah karena tidak kuat Penutup Nah, itulah dia beberapa contoh kata arkais dalam hikayat beserta penjelasannya yang benar. Bagaimana, apakah kamu sudah memahami dengan baik apa itu kata arkais dan contoh atau bentuknya dalam hikayat? Demikian ulasan yang bisa Mamikos sampaikan mengenai contoh-contoh kata arkais dalam hikayat beserta penjelasannya yang benar. Semoga semua informasi yang telah Mamikos berikan tersebut dapat bermanfaat untuk kamu, ya. Jika kamu tertarik untuk mengetahui informasi lainnya, jangan lupa untuk kunjungi blog kami Mamikos Info. Akan ada banyak sekali artikel-artikel menarik, bermanfaat, dan terupdate seputar kata arkais ataupun yang lainnya untuk kamu baca. Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu Kost Dekat UGM Jogja Kost Dekat UNPAD Jatinangor Kost Dekat UNDIP Semarang Kost Dekat UI Depok Kost Dekat UB Malang Kost Dekat Unnes Semarang Kost Dekat UMY Jogja Kost Dekat UNY Jogja Kost Dekat UNS Solo Kost Dekat ITB Bandung Kost Dekat UMS Solo Kost Dekat ITS Surabaya Kost Dekat Unesa Surabaya Kost Dekat UNAIR Surabaya Kost Dekat UIN Jakarta C. Membandingkan Nilai dan Kebahasaan. Pengertian Hikayat . Table of Contents Show Top 1 kata kata arkais dalam hikayat si miskin berserta maknanya - BrainlyTop 2 Kata kata arkais yang ada dalam hikayat si miskin - 3 100 Contoh Kata Arkais Beserta Pengertiannya - PendidikanTop 4 Kata kata arkais dalam hikayat si miskin berserta maknanya ...Top 5 Bab Bahasa Indonesia Hikayat Si Miskin PDF - ScribdTop 6 Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya Sebagai ...Top 7 Kata arkais beserta maknanya dalam teks "Hikayat Si Miskin"Top 8 Nilai-Nilai dan Isi Hikayat_Bahasa Indonesia_Kelas X_KD 9 Mengidentifikasi Karakteristik Bahasa Hikayat - 123dokTop 10 Pengertian Hikayat Ciri-Ciri, Struktur, dan Contoh Lengkap Top 1 kata kata arkais dalam hikayat si miskin berserta maknanya - Brainly Pengarang - Peringkat 104 Ringkasan . Sebutkan langkah-langkah menemukan informasi untuk dikembangkan menjadi proposal!​ . buatlah surat dengan tema ^seuntai harapan generasi penerus bangsa untuk kabupaten madiun layak anak^​ . The conditions of Afghanistan after the civil war have grown ____ severe that many refugees have risked death to escape. A. so B. because C. thus D. s. … ince E. for​ Jelaskan kaidah kebahasaan keterhubungan kata dan kalimat!​ . siapa merupakan ka Hasil pencarian yang cocok Kelas X Pelajaran Bahasa Indonesia Kategori Bab IV Melestarikan Nilai Kearifan Lokal Melalui Cerita Rakyat Kata kunci Hikayat Si ... ... Top 2 Kata kata arkais yang ada dalam hikayat si miskin - Pengarang - Peringkat 101 Ringkasan . apa itu brutal.......​ . judul yg bagus untuk cerpen tentang perkemahan ​ . Buatlah teks prosedur cara membuat bubur manado, yg berisi tujuan, bahan dan alat, langkah, penutup dan ciri bahasa nya apa . Buatlah teks prosedur cara membuat jus mangga, yg berisi tujuan, bahan dan alat, langkah, penutup dan ciri bahasa nya apa . Penglipuran mendapat penghargaan kalpataru dari ..... 7. Desa Penglipuran juga mendapat predikat sebagai desa wi Hasil pencarian yang cocok 1 Laki bini = suami istri 2 Negara antah-berantah = negera yang tidak disebut diketahui nama dan tempatnya 3 Hatta = lalu ...; sudah itu ... ... Top 3 100 Contoh Kata Arkais Beserta Pengertiannya - Pendidikan Pengarang - Peringkat 141 Ringkasan 100 Contoh Kata Arkais Beserta Pengertiannya - Hai Sobat Vertikal, kali ini kita akan membahas tentang pengertian kata arkais beserta contohnya . . Nah Sobat Vertikal, Bagi kalian yang lahir pada tahun 2000an mungkin akan terdengar asing bila mendengar kata-kata bagul, kedau, kariau, dayus dan lain sebagainya.. Baca juga Pengertian, Tujuan dan Karakteristik Debat, Lengkap!Baca juga Klasifikasi dan Morfologi Ikan Teri, Lengkap! Karena kata-kata diata Hasil pencarian yang cocok Bagi kalian yang belum pernah membaca hikayat si miskin, kalian bisa membacanya disini! Di dalam hikayat tersebut, banyak sekali kata-kata arkais yang bisa Anda ... ... Top 4 Kata kata arkais dalam hikayat si miskin berserta maknanya ... Pengarang - Peringkat 143 Ringkasan Kelas XPelajaran Bahasa IndonesiaKategori Bab IV Melestarikan Nilai Kearifan Lokal Melalui Cerita RakyatKata kunci Hikayat Si Miskin, kata arkais, makna lesikalPembahasanKata-kata arkais adalah kata-kata yang berhubungan dengan masa dahulu atau berciri kuno, tua; tidak lazim dipakai lagi tentang kata; ketinggalan Laki bini = suami istri2 Negara antah-berantah = negera yang tidak disebut diketahui nama dan tempatnyakalimat Maka adalah seorang miskin Hasil pencarian yang cocok gumantinr. Verified answer. Kelas X Pelajaran Bahasa Indonesia Kategori Bab IV Melestarikan Nilai Kearifan Lokal Melalui Cerita Rakyat Kata kunci ... ... Top 5 Bab Bahasa Indonesia Hikayat Si Miskin PDF - Scribd Pengarang - Peringkat 137 Ringkasan You're Reading a Free PreviewPages6to13are not shown in this preview. Hasil pencarian yang cocok manusia. Kita harus saling tolong-menolong. Nilai pendidikan terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa. Kata arkais Makna kata. Laki bini ... ... Top 6 Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya Sebagai ... Pengarang - Peringkat 138 Hasil pencarian yang cocok oleh R Wulandari 2020 — Kata-kata yang terdapat dalam hikayat mengandung unsur arkais. ... Dasar membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat. hikayat dan cerpen. ... Top 7 Kata arkais beserta maknanya dalam teks "Hikayat Si Miskin" Pengarang - Peringkat 122 Hasil pencarian yang cocok 28 Nov 2017 — Menengah Atas terjawab Kata arkais beserta maknanya dalam teks Hikayat Miskin putripesekk03 putripesekk03 hatta,maka, kalo salah ... ... Top 8 Nilai-Nilai dan Isi Hikayat_Bahasa Indonesia_Kelas X_KD Pengarang - Peringkat 136 Hasil pencarian yang cocok oleh IA Permatasari 2020 — dan isi yang terkandung dalam cerita rakyat/hikayat. ... Setelah pagi-pagi hari, maka berkatalah Si Miskin kepada istrinya, “Ya, tuanku, matilah rasku. ... Top 9 Mengidentifikasi Karakteristik Bahasa Hikayat - 123dok Pengarang - Peringkat 137 Ringkasan Buatlah tesis berdasarkan nilai-nilai dalam hikayat yang masih relevan dengan kehidupan saat ini. Selanjutnya, kembangkanlah tesis tersebut ke dalam teks eksposisi C. Membandingkan Nilai dan Kebahasaan. Hikayat dengan Cerpen Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu. 1. mengidentifikasi karakteristik bahasa hikayat; 2. membandingkan penggunaan bahasa dalam cerpen dan hikayat;. 3. membandingkan nilai dalam teks hikayat dan cerpen. Pada bagian awal telah disinggung bahwa ba Hasil pencarian yang cocok Identifikasilah kata arkais dalam Hikayat Indera Bangsawan, kemudian carilah ... Si Miskin dalam kutipan hikayat di atas merupakan contoh majas antonomasia ... ... Top 10 Pengertian Hikayat Ciri-Ciri, Struktur, dan Contoh Lengkap Pengarang - Peringkat 113 Ringkasan Pengertian hikayat adalah karangan yang menceritakan realitas kehidupan para tokoh. Hikayat diambil dari kata cerita rakyat. Di Indonesia, sebenarnya ada berbagai macam hikayat yang bisa kita dengarkan dan kita baca. Jadi pada kesempatan kali ini kita akan mengulas banyak tentang hikayat. Berikut adalah beberapa pengertian, struktur, unsur dan jenis hikayat. Pengertian HikayatPengertian hikayat memiliki banyak versi dari para ahli. Maka dari itu, untuk melihat apa saja sih pendapat mereka Hasil pencarian yang cocok 8 Mei 2022 — Hikayat diambil dari kata cerita rakyat. Di Indonesia, sebenarnya ada berbagai macam hikayat yang bisa kita dengarkan dan kita baca. Jadi pada ... ... Hikayat merupakan karya sastra lama yang berbentuk prosa dan didalamnya mengisahkan tentang kehidupan dari keluarga istana, kaum bangsawan atau orang-orang ternama dengan segala kehebatan dan kepahlawanannya. Hikayat Hang Tuah I merupakan sebuah karya sastra melayu. Kata-kata yang terdapat dalam hikayat mengandung unsur arkais. Kata adalah satuan terkecil yang dapat berdiri sendiri dan memiliki makna. Arkais merupakan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu atau berciri kuno dan sudah tidak lazim lagi dipakai. Kata arkais adalah kata- kata yang lazim digunakan pada masa lampau yang memiliki makna atau bentuk sesuai dengan konteks pada saat itu dan sudah jarang atau tidak pernah digunakan pada masa sekarang. Penelitian ini mengkaji kategori kata arkais pada hikayat Hang Tuah I, padanan kata arkais dalam penggunaan bahasa Indonesia tulis saat ini, dan pemanfaatan hasil penelitian kata arkais pada hikayat Hang Tuah I sebagai alternatif materi pembelajaran pada siswa SMA kelas X. Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah hikayat Hang Tuah I karya Bot Genoot Schap terbitan Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional dan silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA Kurikulum 2013 revisi 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa kata arkais yang terdapat dalam hikayat Hang Tuah I karya Bot Genoot Schap terbitan Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional dan Kompetensi Dasar membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat hikayat dan cerpen. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Hasil pada penelitian ini menunjukkan kategori kata arkais dan padanan kata arkais dalam penggunaan Bahasa Indonesia tulis saat ini. Kategori kata arkais meliputi verba, adjektiva, nomina, pronomina dan adverbia. Tidak seluruh kategori kata terpenuhi dalam data. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 25 Vol. 5 2020, 25-38 Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya Sebagai Alternatif Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Kelas X Reni Wulandari, Arief Rijadi, Anita Widjajanti Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember reniw0149 DOI Diterima 12-10-2019 Diterbitkan 29-02-2020 ABSTRAK Hikayat merupakan karya sastra lama yang berbentuk prosa dan didalamnya mengisahkan tentang kehidupan dari keluarga istana, kaum bangsawan atau orang-orang ternama dengan segala kehebatan dan kepahlawanannya. Hikayat Hang Tuah I merupakan sebuah karya sastra melayu. Kata-kata yang terdapat dalam hikayat mengandung unsur arkais. Kata adalah satuan terkecil yang dapat berdiri sendiri dan memiliki makna. Arkais merupakan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu atau berciri kuno dan sudah tidak lazim lagi dipakai. Kata arkais adalah kata- kata yang lazim digunakan pada masa lampau yang memiliki makna atau bentuk sesuai dengan konteks pada saat itu dan sudah jarang atau tidak pernah digunakan pada masa sekarang. Penelitian ini mengkaji kategori kata arkais pada hikayat Hang Tuah I, padanan kata arkais dalam penggunaan bahasa Indonesia tulis saat ini, dan pemanfaatan hasil penelitian kata arkais pada hikayat Hang Tuah I sebagai alternatif materi pembelajaran pada siswa SMA kelas X. Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah hikayat Hang Tuah I karya Bot Genoot Schap terbitan Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional dan silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA Kurikulum 2013 revisi 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa kata arkais yang terdapat dalam hikayat Hang Tuah I karya Bot Genoot Schap terbitan Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional dan Kompetensi Dasar membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat hikayat dan cerpen. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Hasil pada penelitian ini menunjukkan kategori kata arkais dan padanan kata arkais dalam penggunaan Bahasa Indonesia tulis saat ini. Kategori kata arkais meliputi verba, adjektiva, nomina, pronomina dan adverbia. Tidak seluruh kategori kata terpenuhi dalam data. Kata kunci hikayat; kata arkais; padanan kata Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 26 ABSTRACT ale is an old literary work of prose and it tells the story of the life of a family of palaces, nobility or famous people with all its greatness and heroines. Tale of Hang Tuah I is a work of Malay literature. The words contained in the tale contain archeal elements. The word is the smallest language unit that can stand alone and have meaning. Archaic is something that relates to the past or is old-fashioned and is no longer prevalent. Archeal words are words that are commonly used in the past that have meaning or form in accordance with the context at that time and are rarely or never used in the present. This study examines the category of archaic words on the tale of Hang Tuah I, an archaic equivalent in the current use of English writing, and the utilization of archaic research results on tale of Hang Tuah I as an alternative material for Indonesian language learning for grade X of senior high school. The main data source used in this study is the tale of Hang Tuah I by Bot Genoot Schap, published by the Ministry of National Education Language Center and Indonesian language syllabus for senior high school Curriculum 2013 revised 2016. The study uses qualitative research plans with a type of descriptive research. The Data in this research in the form of archaic words contained in the saga Hang Tuah I by Bot Genoot Schap published in the Language center of the Ministry of National Education and the basic competency comparing the values and the linguistic tale and short story . The method of data collection used in this research is a method of documentation. The results of this study show the category of archaic word and archaic equivalent in the current use of Bahasa Indonesia. Archeal word categories include verbs, adjectives, nouns, hailee and adverbes. Not all categories of words are fulfilled in data. Keywords tale; archaic word; synonym 1. PENDAHULUAN Pembabakan kesusasteraan Indonesia dapat dibedakan atas dua periode, yakni sastra lama dan sastra baru. Sastra lama adalah sastra yang berbentuk lisan atau sastra melayu yang tercipta dari suatu ujaran. Sastra lama mengisahkan tentang kehidupan di lingkungan istana atau kerajaan. Menurut Harjito 2007, hal. 4 sastra lama memiliki ciri yaitu istana sentris, statis, terikat pada bentuk yang sudah ada seperti pantun, anonim, dan sifat mendidiknya diperlihatkan secara jelas. Cerita yang terdapat dalam sastra lama banyak mengandung unsur-unsur pelajaran atau hikmah suatu kehidupan. Selanjutnya, sastra baru merupakan karya sastra yang berkembang di kehidupan masyarakat modern. Harjito 2007, hal. 4 mengemukakan ciri sastra baru yaitu masyarakat sentris, dinamis, lepas dari kebiasaan/ kepribadian pengarang, nama pengarang disebutkan, dan sifat mendidik tidak selalu diperlihatkan dengan jelas. Sastra lama dan sastra baru dibagi atas beberapa jenis. Sastra lama meliputi fabel, mantra, gurindam, pantun hikayat, dan syair. Sedangkan sastra baru terbagi atas puisi, prosa dan drama. Penelitian ini difokuskan pada sastra lama yaitu hikayat. Hikayat merupakan karya sastra yang termasuk ke dalam sastra lama. Menurut Hartoko 1986, hal. 59 hikayat merupakan jenis prosa cerita Melayu lama yang mengisahkan kebesaran dan kepahlawanan orang-orang ternama, keanehan dan mujizat tokoh utamanya; kadang Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 27 mirip cerita sejarah atau berbentuk riwayat hidup. Pada umumnya hikayat dikenal memiliki cerita yang berisi tentang kehebatan seseorang disertai dengan keanehan dan kesaktian yang dimiliki tokoh utama. Hikayat diangkat dari kisah yang berkaitan dengan kehidupan istana atau kerajaan atau pusat ceritanya berada di dalam lingkungan istana. Hikayat ditulis dengan menggunakan kata yang dapat menggambarkan situai yang sedang terjadi pada suatu peristiwa. Menurut Keaf 1991, hal. 44 kata adalah satuan terkecil yang diperoleh sesudah sebuah kalimat dibagi atas bagian-bagiannya, dan mengandung sebuah ide. Kata merupakan satuan terkecil yang mampu berdiri sendiri dan dipahami baik maknanya maupun cara penggunaannya. Dalam penulisan hikayat, kata-kata yang digunakan masih mengandung unsur-unsur arkais. Menurut Soekanto 1985, hal. 72 archaism atau arkais adalah unsur-unsur dari zaman lampau yang tetap bertahan. Dalam KBBI 2005, hal. 49 arkais adalah sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu atau berciri kuno dan tidak lazim dipakai lagi ketinggalan zaman, sedangkan arkaisme adalah pemakaian kata atau bentuk kata yang bersifat arkais. Kridalaksana 2008, hal. 19 mengemukakan bahwa arkaisme merupakan unsur bahasa yang tidak lazim tetapi dipakai untuk efek-efek tertentu yang kadang-kadang muncul dalam bahasa kini. Berdasarkan pendapat yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa kata arkais adalah kata-kata yang lazim digunakan pada masa lampau yang memiliki makna atau bentuk sesuai dengan konteks pada saat itu dan sudah jarang atau tidak pernah digunakan pada masa sekarang. Hikayat Hang Tuah I merupakan karya sastra melayu lama yang mengisahkan sejarah di tanah Melayu. Hikayat ini menceritakan tokoh bernama Hang Tuah yang merupakan seorang laksamana ternama serta pahlawan Melayu yang taat terhadap rajanya. Identifikasi kata arkais pada hikayat Hang uah I didasarkan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI. Berdasarkan hasil observasi, ditemukan kata arkais pada hikayat Hang Tuah I. Berikut adalah contoh bentuk kata arkais yang terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Data 1 Maka sahut dayang-dayang itu, "Tun puteri lagi bermain-main di dalam taman, karena tuan puteri lagi masygul akan tunangannya yang di Terenggano itu; lagi dikata oleh tuan puteri demikian sedangkan Raja Malaka hendakkan aku, lagi tiada mau, ini pula Megat Terenggano akan aku mau, sehingga mati sudahlah, yang aku bersuamikan Megat itu, tiadalah" Schap, 2010, hal. 188. Kata arkais masygul termasuk dalam kategori verba atau kata kerja. Disebut verba karena kata masygul menunjukkan keadaan. Berdasarkan hubungan antar unsur dalam kalimat dan konteks cerita, kata masygul menjelaskan keadaan Tun puteri yang disebabkan oleh tunangannya. Dalam KBBI kata masygul memiliki makna bersusah hati karena suatu sebab, sedih, murung. Padanan kata masygul dalam bahasa Indonesia saat ini adalah kata sedih. Berikut adalah contoh penggunaannya dalam bahasa Indonesia tulis saat ini. a “Aku sedih bukan karena aku miskin. Aku sedih karena banyak sekali orang yang malu mengakui miskin. Banyak sekali orang bertambah miskin karena Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 28 selalu berusaha agar tidak tampak miskin” Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014, hal. 44. Data 2 Maka Raja Muda pun duduklah di atas peterana yang keemasan dihadap oleh Bendahara dan Temenggung dan sekalian pertuanan. Schap, 2010, hal. 73. Kata arkais peterana termasuk dalam kategori nomina atau kata benda. Disebut nomina karena karena kata peterana memiliki sifat yang merujuk pada suatu benda. Berdasarkan hubungan antar unsur dalam kalimat dan konteks cerita, kata peterana pada data tersebut dimaknai sebagai sebuah kursi. Dalam KBBI kata peterana memiliki makna bangku tempat duduk untuk orang-orang terhormat misalnya presiden, raja atau tempat duduk mempelai. Padanan kata peterana dalam bahasa Indonesia saat ini adalah kata kursi. Berikut adalah contoh penggunaannya dalam bahasa Indonesia tulis saat ini. b Ia duduk di kursi. Pegal-pegal di pahanya ia kendorkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014, hal. 52. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kata arkais menarik untuk dikaji. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kategori penggunaan kata dan makna kata arkais dan padanan kata arkais dalam penggunaan bahasa Indonesia tulis saat ini. Terkait dengan kata arkais yang terdapat dalam hikayat Hang Tuah I, maka penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai alternatif materi pembelajaran bahasa Indonesia untuk jenjang SMA kelas X. Di dalam kurikulum 2013 revisi 2016, Kompetensi inti pada jenjang SMA kelas X yang berhubungan dengan kata arkais terdapat pada Kompetensi Inti yang berbunnyi “3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang a. ilmu pengetahuan, b. teknologi, c. seni, d. budaya, dan e. humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah” dengan Kompetensi Dasar yang berbunyi “ membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat hikayat dan cerpen” dan “ Mengembangkan cerita rakyat hikayat ke dalam bentuk cerpen dengan memerhatikan isi dan nilai-nilai”. Salah satu indikator yang harus dipenuhi adalah siswa mampu mengidentifikasi karakteristik bahasa hikayat kata arkais. Pembelajaran tersebut bertujuan agar siswa mampu menemukan kata arkais yang terdapat dalam hikayat. Oleh karena itu, kata arkais dalam hikayat Hang Tuah I perlu diteliti dan dikaji lebih mendalam agar dapat digunakan sebagai salah satu alternatif materi pembelajaran bahasa Indonesia khususnya mengidentifikasi karakteristik bahasa hikayat kata arkais. Berkaitan dengan penjelasan yang telah dipaparkan di atas, permasalahan dalam penelitian ini yaitu, hal. 1 kategori kata arkais pada hikayat Hang Tuah I, 2 padanan kata arkais dalam penggunaan Bahasa Indonesia tulis saat ini dan 3 pemanfaatan hasil penelitian kata arkais pada hikayat Hang Tuah I sebagai alternatif materi pembelajaran pada siswa SMA kelas X. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1 mendeskripsikan kategori Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 29 dan makna kata arkais pada hikayat Hang Tuah I, 2 mendeskripsikan padanan kata arkais dalam penggunaan Bahasa Indonesia tulis saat ini, dan 3 mendeskripsikan pemanfaatan hasil penelitian kata arkais pada hikayat Hang Tuah I sebagai alternatif materi pembelajaran pada siswa SMA kelas X. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Menurut Bodgan dan taylor dalam Moleong, 2014, hal. 4 penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kata arkais yang terdapat dalam hikayat Hang Tuah I yang ditulis oleh Bot Genoot Schap terbitan Pusat Bahasa Kemetrian Pendidikan Nasional. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan jenis penelitian yang menggambarkan fakta dan karakteristik objek secara mendalam, detail dan tanpa rekayasa. Menurut Nazir 1998, hal. 62 penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang berusaha mendeskripsikan atau melukiskan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta yang diselidiki. Penelitian ini menghasilkan data berupa kata arkais yang terdapat dalam hikayat Hang Tuah I karya Bot Genoot Schap terbitan Pusat Bahasa Kemetrian Pendidikan Nasional. Data adalah hasil pencatatan peneliti, baik berupa fakta ataupun angka Arikunto, 1996, hal. 99. Data pada penelitian ini berupa kata arkais yang terdapat dalam hikayat Hang Tuah I karya Bot Genoot Schap terbitan Pusat bahasa Kementrian Pendidikan Nasional dan Kompetensi Dasar membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat hikayat dan cerpen. “Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh” Arikunto, 1996, hal. 144. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah hikayat Hang Tuah I karya Bot Genoot Schap terbitan Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional tahun 2010. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. “Metode dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data dengan mengambil sumber data dari beberapa dokumen berupa buku-buku, jurnal, majalah, surat kabar, dan lain sebagainya” Arikunto, 1996, hal. 2022. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik alur dari Milles dan Huberman. Menurut Miles dan Huberman 1992, hal. 16 terdapat tiga alur yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Instrumen penelitian dalam penelitian ini terdiri dari dua, yaitu instrumen utama peneliti dan instrumen pendukung alat tulis untuk menandai dan mencatat kata arkais. Instrumen utama analisis data adalah peneliti. Intrumen pendukung analisis data diantaranya tabel analisis data, teori pendukung, dan laptop. Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu 1 tahap persiapan, 2 tahap pelaksanaan, dan 3 tahap penyelesaian. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian sebelumnya berjudul Diksi Arkais Rubrik Padhalangan pada Majalah Djaka Lodang. Penelitian tersebut dilakukan oleh Muhammad Muhti Ali, mahasiswa Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 30 Universitas Negeri Yogyakarta, pada tahun 2012. Pada penelitian sebelumnya, disebutkan bahwa ciri-ciri diksi arkais adalah mempunyai bentuk yang lampau, jarang digunakan, dan sakral. Penggunaan diksi arkais sudah tidak lagi atau jarang digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat dua masalah yang dikaji dalam penelitian sebelumnya yaitu 1 jenis diksi arkais yang digunakan dalam rubrik Pandhalangan pada majalah Djaka Lodang; dan 2 fungsi diksi arkais yang terdapat dalam rubrik Pandhalangan pada majalah Djaka Lodang. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah 1 Diksi arkais yang terdapat dalam rubrik Pandhalangan pada majalah Djaka Lodang meliputi kata denotasi, kata konotasi, kata khusus, kata umum kata konkret, dan kata abstrak; dan 2 Fungsi pemakaian diksi arkais dalam rubrik Padhalangan pada majalah Djaka Lodhang adalah untuk menimbulkan keindahan, menampilkan gambaran suasana, menimbulkan kesan religius, mengkonkretkan gambaran, memperjelas maksud dan menghidupkan kalimat. Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan yang sudah ditentukan maka pembahasan dalam penelitian ini mencakup tiga hal, yaitu kategori kata arkais, padanan kata arkais dalam penggunaan Bahasa Indonesia tulis saat ini dan pemanfaatan kata arkais sebagai alternatif materi pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA kelas X. A. Kategori Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I Kelas kata adalah penggolongan kata dalam satuan bahasa berdasarkan kategori bentuk, fungsi, dan makna dalam sistem gramatikal. Kelas kata dikelompokkan menjadi tiga belas jenis, yaitu verba, adjektiva, nomina, pronomina, numeralia, adverbia, interogativa, demonstrativa, artikula, preposisi, konjungsi, kategori fatis, dan interjeksi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan data sebagai berikut. 1 Verba Verba atau kata kerja adalah kata yang menjelaskan suatu tindakan, keberadaan, atau pengalaman. Verba atau kata kerja berfungsi untuk menunjukkan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang. Berdasarkan data yang diperoleh dalam hikayat Hang Tuah I, verba atau kata kerja yang diperoleh adalah sebagai berikut. data 3 Maka Hang Tuah pun menghunus kerisnya, lalu menyeburkan dirinya pada musuh yang dua puluh itu, serta ditikamnya oleh Hang Tuah, dua orang mati Schap, 2010, hal. 25. Kata arkais menghunus termasuk dalam kategori verba atau kata kerja. Disebut verba karena kata menghunus menunjukkan kegiatan aksi atau melakukan perkerjaan. Pada data di atas, kata menghunus yang diikuti kata keris menjelaskan perbuatan yang dilakukan oleh tokoh Hang Tuah. Dalam KBBI kata menghunus memiliki arti mencabut pedang, keris, dan sebagainya dari sarungnya. 2 Adjektiva Adjektiva atau kata kerja adalah penggolongan kata yang digunakan untuk menunjukkan sifat atau keadaan suatu objek, baik itu manusia, hewan dan tumbuhan serta benda. Berdasarkan data yang diperoleh dalam hikayat Hang Tuah I, adjektiva atau kata sifat yang diperoleh adalah sebagai berikut. Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 31 data 4 Syahdan maka Raden Mas Ayu pun dihiasi oranglah dengan pakaian yang indah-indah, bertatahkan intan dikarang, berkain kembang dipercikkan dengan air mas, berpadaka susun telu kaluh sisir, bersayap sandang bepermata pudi manikam, dan kamar perbuatan Jawa berincil-berincil bepermata merah, bersunting bunga semendarasawilis dan bersanggul miring cara Jawa, berpatam mas berpelik mutiara kesturi dan memakai kalambak, bergelang manikam dilarik tiga-tiga sebelah, berasat-asat bayam, bersifat alit, giginya asmaradanta dan bibirnya merah tua, terlalu manis seperti laut madu Schap, 2010, hal. 153. Kata arkais asmaradanta termasuk dalam kategori adjektiva atau kata sifat. Disebut adjektiva karena dalam konteks kalimat di atas kata asmaradanta menunjukkan keadaan suatu objek. Pada data di atas kata asmaradanta menggambarkan keadaan gigi Raden mas Ayu yang putih mengkilap. Dalam KBBI 2005, hal. 234 kata asmaradanta memiliki makna putih berkilat. 3 Nomina Nomina atau kata benda adalah kata-kata yang sifatnya merujuk pada suatu benda atau barang. Berdasarkan data yang diperoleh dalam hikayat Hang Tuah I, verba atau kata kerja yang diperoleh adalah sebagai berikut. data 5 Maka Bendahara pun mengerahkan segala tukang dan utas Schap, 2010, hal. 105. Kata arkais utas termasuk dalam kategori nomina atau kata benda. Disebut nomina karena dalam konteks kalimat di atas terdapat verba mengerahkan sehingga kata utas merujuk pada seseorang dengan keahlian tertentu. Berdasarkan hubungan antar unsur dalam kalimat dan konteks cerita, kata utas pada data tersebut lebih tepat dimaknai sebagai seorang ahli. Dalam KBBI kata utas memiliki makna mahir dan padai. 4 Pronomina Pronomina atau kata ganti adalah jenis kata pengganti yang merujuk pada nomina lain atau kata benda lain. Berdasarkan data yang diperoleh dalam hikayat Hang Tuah I, pronomina atau kata ganti yang diperoleh adalah sebagai berikut. data 6 “Manira ini dititahkan oleh paduka Seri Batara, melihat tuan-tuan sekalian ini dan membawa ayapan Raja akan panglima kedua Schap 2010, hal. 108. Kata arkais manira termasuk dalam kategori pronomina atau kata ganti. Disebut pronomina karena dalam konteks kalimat di atas, kata manira menggantikan nomina. Pada data di atas, kata manira menggantikan kata saya. Dalam KBBI kata manira memiliki makna saya, aku untuk menyebut diri ketika berbicara dengan bawahan. 5 Adverbia Adverbia atau kata keterangan adalah suatu jenis kata yang sifatnya memberikan keterangan penjelasan terhadap kata kerja verba, kata sifat adjektiva maupun kata bilangan, serta mampu dalam memberikan keterangan penjelasan terhadap semua Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 32 kalimat. Berdasarkan data yang diperoleh dalam hikayat Hang Tuah I, adverbia atau kata keterangan yang diperoleh adalah sebagai berikut. data 7 Syahdan apabila baginda ke luar, dihadap oleh segala raja-raja dan menteri hulubalang, maka beberapa pedang yang sudah terhunus kepada kiri kanan baginda itu, dan beberapa puluh bentara yang memangku pedang yang berikatkan emas, bertatahkan ratna mutu manikam Schap, 2010, hal. 3. Kata arkais syahdan termasuk dalam kategori adverbia atau kata keterangan. Disebut adverbia karena dalam konteks kalimat di atas kata syahdan memberikan keterangan terhadap kata berikutnya. Pada data di atas kata syahdan merupakan permulaan pada cerita yang memberikan penjelasan terhadap semua kalimat. Dalam KBBI kata syahdan memiliki makna selanjutnya, lalu. B. Padanan Kata Arkais dalam Penggunaan Bahasa Indonesia Saat Ini Pada sub bab sebelumnya telah diketahui beberapa kata arkais berdasarkan kategori kata. Pada bagian ini akan disajikan padanan kata dari kata-kata tersebut dalam penggunaan bahasa tulis saat ini. Berikut adalah padanan kata arkais dan penggunaannya dalam bahasa indonesia tulis saat ini. Berikut adalah padanan kata arkais dan penggunaannya dalam bahasa indonesia tulis saat ini. 1. Menghunus = mencabut Kata arkais menghunus terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Kata menghunus memiliki padanan kata dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini yaitu kata mencabut. Berikut penggunaan kata menghunus dalam hikayat Hang Tuah I. 1a Maka Hang Tuah pun menghunus kerisnya, lalu menyeburkan dirinya pada musuh yang dua puluh itu, serta ditikamnya oleh Hang Tuah, dua orang mati Schap, 2010, hal. 25. Berikut adalah penggunaan kata mencabut dalam bahasa Indonesia saat ini. 1b Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015, hal. 11. 2. Khayali = pingsan Kata arkais khayali terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Kata khayali memiliki padanan kata dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini yaitu kata pingsan. Berikut adalah penggunaan kata khayali dalam hikayat Hang Tuah I. 2a Setelah beberapa piala, maka Tun Tuah pun khayali Schap, 2010, hal. 197. Berikut adalah penggunaan kata khayali dalam bahasa Indonesia saat ini. 2b Guru menugasi siswa untuk menganalisis mengapa partisipan dalam teks “Politisi Blusukan Banjir” pingsan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014, hal. 31. 3. Asmaradanta = putih Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 33 Kata arkais asmaradanta terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Kata asmaradanta memiliki padanan kata dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini yaitu kata putih. Berikut adalah penggunaan kata asmaradanta dalam hikayat Hang Tuah I. 3a Syahdan maka Raden Mas Ayu pun dihiasi oranglah dengan pakaian yang indah-indah, bertatahkan intan dikarang, berkain kembang dipercikkan dengan air mas, berpadaka susun telu kaluh sisir, bersayap sandang bepermata pudi manikam, dan kamar perbuatan Jawa berincil-berincil bepermata merah, bersunting bunga semendarasawilis dan bersanggul miring cara Jawa, berpatam mas berpelik mutiara kesturi dan memakai kalambak, bergelang manikam dilarik tiga-tiga sebelah, berasat-asat bayam, bersifat alit, giginya asmaradanta dan bibirnya merah tua, terlalu manis seperti laut madu Schap, 2010, hal. 153. Berikut adalah penggunaan kata putih dalam bahasa Indonesia saat ini. 3b Jika kami sakit, sakit apa pun diare, bengkak, batuk, flu, atau gatal-gatal maka guru kami akan memberikan sebuah pil berwarna putih, berukuran besar bulat seperti kancing jas hujan, yang rasanya sangat pahit Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015, hal. 115. 4. Singit = miring Kata arkais singit terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Kata singit memiliki padanan kata dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini yaitu kata miring. Berikut adalah penggunaan kata miring dalam hikayat Hang Tuah I. 4a Maka tatkala Tun Tuah memengkis itu, maka jung itupun singit, seperti hendak terbalik Schap, 2010, hal. 221. Berikut adalah penggunaan kata miring dalam bahasa Indonesia saat ini. 4b Satu-satunya benda yang menandakan bangunan itu sekolah adalah sebatang tiang bendera dari bambu kuning dan sebuah papan tulis hijau yang tergantung miring di dekat lonceng Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015, hal. 116. 5. Saudagar = pengusaha Kata arkais saudagar terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Kata saudagar memiliki padanan kata dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini yaitu kata pengusaha. Berikut adalah penggunaan kata saudagar dalam hikayat Hang Tuah I. 5a Maka sembah Tun Tuah ini kampung saudagar, tuanku Schap, 2010, hal. 70. Berikut adalah penggunaan kata pengusaha dalam bahasa Indonesia saat ini. 5b Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 34 Sebelum menjadi salah seorang pengusaha di dunia properti, Elang berulang - ulang mengasah naluri bisnisnya dengan berjualan donat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013, hal. 4. 6. Utas = ahli Kata arkais utas terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Kata utas memiliki padanan kata dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini yaitu kata utas. Berikut adalah penggunaan kata utas dalam hikayat Hang Tuah I. 6a Maka Bendahara pun mengerahkan segala tukang dan utas Schap, 2010, hal. 105. Berikut adalah penggunaan kata ahli dalam bahasa Indonesia saat ini. 6b Tulisan dalam jurnal ilmiah ditujukan untuk para peneliti dan para ahli lainnya di bidang yang sama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015, hal. 220. 7. Manira = saya Kata arkais manira terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Kata manira memiliki padanan kata dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini yaitu kata saya. Berikut adalah penggunaan kata manira dalam hikayat Hang Tuah I. 7a “Manira ini dititahkan oleh paduka Seri Batara, melihat tuan-tuan sekalian ini dan membawa ayapan Raja akan panglima kedua Schap 2010, hal. 108. Berikut adalah penggunaan kata saya dalam bahasa Indonesia saat ini. 7b “Satu kilo daging ini saya jual Bu" Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015, hal. 26. 8. Andika = tuanku Kata arkais andika terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Kata andika memiliki padanan kata dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini yaitu kata tuanku. Berikut adalah penggunaan kata andika dalam hikayat Hang Tuah I. 8a Maka sembah Laksamana, "Daulat andika Batara" Schap, 2010, hal. 174. Berikut adalah penggunaan kata tuanku dalam bahasa Indonesia saat ini. 8b Kuburan Tuanku Imam Bonjol terletak di desa Lotta, kecamatan Pineleng, kabupaten Minahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015, hal. 78. 9. Syahdan = selanjutnya Kata arkais syahdan terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Kata syahdan memiliki padanan kata dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini yaitu kata selanjutnya. Berikut adalah penggunaan kata syahdan dalam hikayat Hang Tuah I. Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 35 9a Syahdan apabila baginda ke luar, dihadap oleh segala raja-raja dan menteri hulubalang, maka beberapa pedang yang sudah terhunus kepada kiri kanan baginda itu, dan beberapa puluh bentara yang memangku pedang yang berikatkan emas, bertatahkan ratna mutu manikam Schap, 2010, hal. 3. Berikut adalah penggunaan kata selanjutnya dalam bahasa Indonesia saat ini. 9b Selanjutnya, jika kalimat pertama dalam kalimat majemuk setara itu berupa kalimat transitif, kalimat kedua dan selanjutnya juga harus berupa kalimat transitif Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015, hal. 62. 10. Sahaja = saja Kata arkais sahaja terdapat dalam hikayat Hang Tuah I. Kata sahaja memiliki padanan kata dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini yaitu kata saja. Berikut adalah penggunaan kata sahaja dalam hikayat Hang Tuah I. 10a Maka berlayarlah dari Pelembang itu, tetapi Mendam Berahi itu menarik layar tupang sahaja menuju pulau Schap, 2010, hal. 123. Berikut adalah penggunaan kata saja dalam bahasa Indonesia saat ini. 10b Jangankan membuat program wisata yang kreatif, membangun prasarananya saja kerap tidak dilakukan pemerintah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015, hal. 5. C. Pemanfaatan Hasil Penelitian Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I sebagai Alternatif Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Kelas X Teks cerita rakyat hikayat merupakan salah satu teks yang diajarkan pada tingkat Sekolah Menengah Atas kelas X semester ganjil. Di dalam Kurikulum 2013 revisi 2016, kompetensi pada jenjang SMA kelas X yang berhubungan dengan teks cerita rakyat hikayat kompetensi inti 3 yang berbunyi Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang a. ilmu pengetahuan, b. teknologi, c. seni, d. budaya, dan e. humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Dengan Kompetensi Dasar yakni Membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat hikayat dan cerpen dan Mengembangkan cerita rakyat hikayat ke dalam bentuk cerpen dengan memerhatikan isi dan nilai-nilai. Indikator Pencapaian Kompetensi dari kedua Kompetensi Dasar tersebut adalah sebagai berikut. Mampu mengidentifikasi karakteristik bahasa hikayat. Mampu menunjukkan perilaku jujur dan bekerja sama dalam mengidentifikasi karakteristik bahasa hikayat Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 36 Mampu menunjukkan sikap berani dan sopan santun dalam mengemukakan hasil identifikasi karakteristik bahasa hikayat Mampu memparafrasakan teks hikayat dalam bentuk sinopsis 4. SIMPULAN Rumusan masalah pertama yaitu kategori kata arkais. Kelas kata yang ditemukan pada hikayat Hang Tuah I adalah verba antara lain menghunus dan khayali, adjektiva antara lain asmaradanta dan singit, nomina antara lain saudagar dan utas, pronomina antara lain manira dan andika, dan adverbia antara lain syahdan dan sahaja. Rumusan masalah kedua adalah padanan kata arkais dalam penggunaan Bahasa Indonesia tulis saat ini. Beberapa padanan kata arkais dalam penggunaan bahasa Indonesia saat ini diantaranya asmaradanta = putih, khayali = pingsan, dan utas = ahli. Rumusan masalah ketiga adalah mengenai pemanfaatan hasil penelitian sebagai alternatif materi pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA kelas X, yaitu pada materi cerita rakyat hikayat. Pemanfaatan hasil penelitian dapat dilakukan dengan cara merekomendasikan materi ajar yang berisi hasil kajian diksi arkais dalam penelitian ini yang telah disesuaikan dengan kompetensi dasar pada kurikulum 2013 revisi 2016. Kompetensi dasar KD yang dapat digunakan adalah Membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat hikayat dan cerpen dan Mengembangkan cerita rakyat hikayat ke dalam bentuk cerpen dengan memerhatikan isi dan nilai-nilai. 5. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua yang senantiasa memberikan semangat dan doa tanpa henti, Arief Rijadi selaku dosen pembimbing utama dan Ibu Anita Widjajanti selaku dosen pembimbing kedua yang telah membimbing, meluangkan waktu, pikiran dan tenaga kepada penulis dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Terima kasih almamater Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember yang penulis banggakan dan seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian karya tulis ilmiah ini. 6. DAFTAR RUJUKAN Ali, 2012. Diksi Arkais Rubrik Padhalangan pada Majalah Djaka Lodang. Skripsi. Yogyakarta Universitas Negeri Yogyakarta Unpublished Skripsi. Arikunto, S. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta PT Rineka Cipta. Harjito. 2007. Potret Sastra Indonesia. Semarang IKIP PGRI Semarang Press. Hartoko, D. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta Gramedia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik. Jakarta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2015. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik. Jakarta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 37 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik. Jakarta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keraf, G. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia untuk Tingkat Pendidikan Menengah. Jakarta Gramedia Widiasrana Indonesia. Kridalaksana, H. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta PT Gramedia Pustaka Utama. Miles, & Huberman, AM. 1992. Analisis Data Kualitatif, Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta UI Press. Nazir, M. 1998. Metode Penelitian. Jakarta Ghalia Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta Balai Pustaka. Schap, 2010. Hikayat Hang Tuah I. Jakarta Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional. Soekanto, S. 1985. Kamus Sosiologi. Jakarta Rajawali. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung Alfabeta. Vol 5. No. 1 2020, 25-38 Wulandari,R., Rijadi, A., Widjajanti, A. Kata Arkais pada Hikayat Hang Tuah I dan Pemanfaatannya... 38 ... Some previous researchers have researched archaism. Several research references that are relevant to ancient vocabulary in the Aceh language dictionary by Aboe Bakar and friends are Afria 2017, Wulandari et al. 2020, and Lismawati 2021. The research approach is quantitative. ...SafrianaSafriandiIba HarliyanaThis research is entitled "Archaic Vocabulary in the Aceh Dictionary the Works Aboe Bakar and Friends". This study aims to find out what has been archaic in the Aceh Language Dictionary by Aboe Bakar and his friends. The approach used in this research is quantitative. The data collection in this study was using a questionnaire given to respondents from the categories of adolescents 15-20 years, adults 21-45 years and the elderly 46-65 years. The source of the data for this research is the native Aceh language, the researchers chose two sub-districts in Lhokseumawe City, namely Banda Sakti sub-district and Muara Dua sub-district. The researcher found that there were already archaic Acehnese vocabularies, as many as 148 vocabularies, namely abeusi, abeueng-abeueng, abiek, abin, acan, abôk. acok, asôb, 'aduat, akok, akô, 'ala/'akla, alang, alén, alét, bahie, bakeusih, bakai, baki, bako, balah, balak, balo, baloe, balôh, baluem, bandôt, bangkéh, bantaban, barah, baréng, basoe, basôh, bateue, baweue, bawôih, beuaih, bleutèe, beung'u, beupak, bijoe, beureu ôn, beuténg, beutôh, bhak, bhong, biduen, biheue, bingkéh, can'ok, cawöi, dabèe, daih, dampéng, darôi, dudom, dugom, deumpék, dangdhöt, dapa/dapha, dawok, deuru, dung'ok, èeng-èeng, èekeulaih, èekheutieue, èejeuba, gubra, ganong, geuny'ie, gumoe, guntoe, guroe, haleumab, haling, hanggô, hangèek, hany'ang, hareutoe, harôih, harok harök, hilam, himpôn, hiram, hirö, idan-idan, ilat, ingkang, meu ingkang, ingoih, iréh, jaban, jaja, jagon jagön, kancôt, keubeueng, keudöt, keululu, keureukôih, keutupéng, kinca, kiwieng, laböh, labon/labön, Arkais Rubrik Padhalangan pada Majalah Djaka LodangM M AliAli, 2012. Diksi Arkais Rubrik Padhalangan pada Majalah Djaka Lodang. Skripsi. Yogyakarta Universitas Negeri Yogyakarta Unpublished Skripsi.HarjitoHarjito. 2007. Potret Sastra Indonesia. Semarang IKIP PGRI Semarang Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik. Jakarta Kementerian Pendidikan dan KebudayaanKementerian Pendidikan Dan KebudayaanKementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik. Jakarta Kementerian Pendidikan dan Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia untuk Tingkat Pendidikan MenengahG KerafKeraf, G. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia untuk Tingkat Pendidikan Menengah. Jakarta Gramedia Widiasrana Linguistik. Jakarta PT Gramedia Pustaka UtamaH KridalaksanaKridalaksana, H. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta PT Gramedia Pustaka B MilesA M HubermanMiles, & Huberman, AM. 1992. Analisis Data Kualitatif, Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta UI Penelitian. Jakarta Ghalia IndonesiaM NazirNazir, M. 1998. Metode Penelitian. Jakarta Ghalia Hang Tuah I. Jakarta Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan NasionalB G SchapSchap, 2010. Hikayat Hang Tuah I. Jakarta Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Sosiologi. Jakarta RajawaliS SoekantoSoekanto, S. 1985. Kamus Sosiologi. Jakarta Penelitian KuantitatifSugiyonoSugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung Alfabeta. - Dalam ilmu lingustik atau bahasa, arkais diartikan sebagai kosakata yang sudah tidak digunakan banyak orang. Karena kata arkais sudah jarang ditemui dalam percakapan atau komunikasi sehari-hari. Meskipun sudah jarang digunakan sebagai sarana komunikasi, kata-kata arkais masih banyak digunakan pada cerita hikayat cerita rakyat.Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, arkais pada cerita hikayat mempunyai maksud kata-kata yang sudah jarang digunakan. Arkais sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya dari sebuah masa yang lebih awal dan tidak dipakai lagi atau sesuatu hal yang memiliki ciri khas kuno atau antik. Baca juga Kata Baku yang Sering Salah Penulisannya Contoh kata arkais Berikut beberapa kata arkais yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia anju = percobaan melangkah, melompat, ancang-ancang adicita = ideologi anggara = buas, liar ahkam = hukum, undang-undang bagul = menggending, mendukung bahalan = bengkak bernanah pada selangkangan balabad = atas angin, angin darat, angin pegunungan banang = besar pada jenisnya badegap = kuat, tegap begu = hantu hutan belabas = kain sutra berbenang emas bembarap = tandu untuk mengangkat orang bokoh = lemah, lembek cacil = amat kecil Cagut = memagut, mencatuk, mematik caring = melanggar celih = malas-malas, segan-segan celuk = memasukkan tangan untuk mengambil sesuatu cempera = pecah belah, berhamburan cempiang = pendekar, jagoan cengis = berbau sangat sangit cerabih = bercakap-cakap tidak keruan, banyak omong, berseloroh colang-caling = tidak teratir, tidak keruan comor = kotor sekali dabak = tiba-tiba, tidak disangka-sangka, mendadak dabal = pundi-pundi yang dignatungkan pada ikat pinggang dabat = binatang dabik = memukul dabir = juru tulis, penulis, eban = mengempaskan ke sisi ebek = tabir, penutup jendela eboni = kayu yang keras, berat, dan tahan lama ebro = kereta sewaan Baca juga Mengenal Perubahan Makna Kata Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Teks hikayat adalah cerita Melayu klasik yang menonjolkan unsur penceritaan berciri kemustahilan dan kesaktian tokoh-tokohnya Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 107. Isi ceritanya sendiri banyak berisi mengenai persoalan budaya, moral, dan nilai-nilai kehidupan lain, sehingga kita dapat memetik pelajaran di dalamnya, sebagai cermin kehidupan kita. Menurut Hav a Pertiwi, 2009, hlm. 46 secara etimologis, kata “Hikayat” diturunkan dari bahasa Arab “Hikayat” yang berarti “cerita”, “Kisah”, “dongeng-dongeng”. “Hikayat” sendiri dalam bahasa Arab berasal dari bentuk kata kerja “Haka”, yang artinya menceritakan, mengatakan sesuatu kepada orang lain. Sementara itu, Sudjiman 2006, hlm. 34 berpendapat bahwa hikayat merupakan jenis cerita rekaan dalam sastra Melayu Lama yang menggambarkan keagungan dan kepahlawanan yang adakalanya sarat akan makna cerita sejarah atau riwayat hidup suatu tokoh. Dapat disimpulkan bahwa hikayat adalah cerita fiksi Melayu klasik yang mengisahkan riwayat tokoh agung atau sakti berwatak panutan sehingga dapat dipetik berbagai nilai positifnya sebagai cerminan hidup kita. Cerita Rakyat Sebagai catatan, hikayat merupakan salah satu jenis cerita rakyat. Oleh karena itu, ada baiknya kita mengetahui apa itu cerita rakyat. Cerita rakyat atau berbagai kisah atau cerita yang dikisahkan secara lisan dan diwariskan secara turun-temurun dalam suatu wilayah atau negara tertentu. Terdapat berbagai jenis cerita rakyat. Namun, semuanya memiliki kemiripan yang menaunginya, yakni anonim yang berarti tidak jelas siapa penulisnya, kemudian selalu disertai tema yang terpengaruh budaya setempat dan latar suatu wilayah tertentu. Karakteristik Teks Hikayat Hikayat merupakan sebuah teks narasi yang cukup berbeda dengan yang lain. Oleh karena itu, hikayat memiliki karakteristik kuat yang membedakannya. Karakteristik tek hikayat menurut Tim Kemdikbud 2017, hlm. 119 meliputi beberapa poin di bawa ini. Kemustahilan, artinya dalam hikayat terdapat banyak hal yang tidak logis atau tidak bisa dinalar, meliputi dari segi bahasa maupun cerita, contohnya bayi lahir disertai pedang dan panah, seorang putri keluar dari gendang, dsb. Kesaktian, berarti tokoh di dalam hikayat memiliki kesaktian yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa, seperti mengubah wujud menjadi binatang, mampu melenyapkan bangunan hanya dengan satu jentikkan jari saja, dsb. Anonim, maksudnya tidak diketahui secara jelas siapa penulis atau penceritanya karena hikayat diceritakan secara lisan dan turun-temurun. Istana Sentris,hikayat selalu bertema dan berlatar suatu kerajaan. Ciri Ciri Teks Hikayat Berdasarkan pada berbagai penjelasan dan pendapat di atas, maka dapat ditarik bahwa ciri-ciri hikayat juga dapat meliputi beberapa poin di bawah ini. Merupakan cerminan realitas kehidupan rakyat setempat cerita rakyat. Berhubung pada dasarnya hal yang diungkapkan pengarang disampaikan dengan jalan menceritakan, meriwayatkan, dan mendongengkan, maka jenis karangan yang digunakan adalah narasi. Dilandasi oleh adanya unsur “cerita” atau “dongeng”, maka hikayat berkesan rekaan atau fiksional. Hikayat umumnya bermotifkan keajaiban dan kesaktian. Isi yang dikandung hikayat umumnya menyingkap kehidupan tokoh besar seperti raja dan keluarganya, pahlawan, atau seseorang yang sakti dan berpengaruh terhadap masyarakat luas. Struktur Teks Hikayat Struktur teks hikayat secara umum masih sama dengan teks narasi. Berikut adalah beberapa struktur tersebut. Orientasi, merupakan pengenalan latar, tokoh, dan kisah baik dari segi waktu, tempat maupun peristiwa. Orientasi juga biasanya menata berbagai adegan dan menjelaskan hubungan antartokoh. Komplikasi, bagian di mana konflik mulai muncul. Konflik adalah pertentangan atau kesukaran-kesukaran yang dialami tokoh utama dalam hikayat. Bagian ini akan berangsur terus bertambah hingga akhirnya memuncak mencapai bagian klimaks. Resolusi, merupakan penyelesaian dari berbagai konflik yang terjadi. Resolusi juga dapat diiringi oleh koda atau kesimpulan dan amanat akhir terhadap kondisi yang dialami oleh tokoh utama. Kaidah Kebahasaan Teks Hikayat Dari segi bahasa, hikayat memiliki kekhasan khusus, yakni menggunakan bahasa Melayu klasik yang ditandai dengan penggunaan banyak kata penghubung dan kata-kata arkais. Selain itu, karena hikayat juga masih merupakan teks narasi, karakteristik bahasa yang sama juga menaunginya. Untuk lebih jelasnya, kaidah kebahasaan teks hikayat adalah sebagai berikut. Menggunakan kata ganti dan nama orang sebagai sudut pandang penceritaan aku, mereka, dia. Penggunaan kata yang mencerap pancaindra untuk deskripsi latar tempat, waktu, suasana, contoh latar tempat Kerajaan itu amatlah megah, tanahnya subur sehingga rakyatnya pun makmur. Emas dan berlian bertaburan di dinding istana, dan lumbung padi rakyatnya selalu terisi. Menggunakan pilihan kata dengan makna kias dan makna khusus, conntohnya menjulang, memancung. Banyak memakai kata sambung urutan waktu kemudian, sementara itu, bersamaan dengan itu, tiba-tiba, ketika, sebelum. penggunaan kata sambung urutan waktu untuk menandakan datangnya tokoh lain atau perubahan latar, baik latar suasana, waktu, dan tempat, contohnya Dua tahun kemudian, sang Pangeran pulang membawa janjinya. Akhirnya, Sultan dapat merestuinya sebagai menantunya. Contoh Teks Hikayat Menurut Tim Kemdikbud 2017, hlm. 141 contoh teks hikayat adalah sebagai berikut. Hikayat Si Miskin Ini hikayat ceritera orang dahulu kala sekali peristiwa Allah Swt menunjukkan kekayaan-Nya kepada hamba-Nya. Maka adalah seorang miskin laki bini berjalan mencari rizkinya berkeliling Negara antahberantah. Adapun nama raja di dalam negara itu Maharaja Indera Dewa. Namanya terlalu amat besar kerajaan baginda itu. Beberapa raja-raja di tanah Dewa itu takluk kepada baginda dan mengantar upeti kepada baginda pada setiap tahun. Hatta, maka pada suatu hari baginda sedang ramai dihadapi oleh segala raja-raja, menteri, hulubalang, rakyat sekalian di penghadapannya. Maka si Miskin itupun sampailah ke penghadapan itu. Setelah dilihat oleh orang banyak, si Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya. Maka orang banyak itupun ramailah ia tertawa seraya mengambil kayu dan batu. Maka dilemparilah akan si miskin itu kena tubuhnya habis bengkak-bengkak dan berdarah. Maka segala tubuhnya pun berlumur dengan darah. Maka orang pun gemparlah. Maka titah baginda, “Apakah yang gempar di luar itu?”. Sembah segala raja-raja itu “Ya tuanku Syah Alam, orang melempar si Miskin tuanku”. Maka titah baginda, “Suruh usir jauh-jauh!”. Maka diusir oranglah akan si Miskin hingga sampailah ke tepi hutan. Maka orang banyak itupun kembalilah. Maka haripun malamlah. Maka bagindapun berangkatlah masuk ke dalam istanannya itu. Maka segala raja-raja dan menteri, hulubalang rakyat sekalian itupun masing-masing pulang ke rumahnya. Adapun akan si Miskin itu apabila malam iapun tidurlah di dalam hutan itu. Setelah siang hari maka iapun pergi berjalan masuk ke dalam negeri mencari riskinya. Maka apabila sampailah dekat kepada kampung orang. Apabila orang yang empunya kampung itu melihat akan dia. Maka diusirlah dengan kayu. Maka si Miskin itupun larilah. Ia lalu ke pasar. Maka apabila dilihat oleh orang pasar itu si Miskin datang, maka masing-masing pun datang ada yang melontari dengan batu, ada yang memalu dengan kayu. Maka si Miskin itupun larilah tunggang langgang, tubuhnya habis berlumur dengan darah. Maka menangislah ia berseru-seru sepanjang jalan itu dengan tersengat lapar dahaganya seperti akan matilah rasanya. Maka ia pun bertemu dengan tempat orang membuangkan sampah-sampah. Maka berhentilah ia di sana. Maka dicaharinyalah di dalam sampah yang tertimbun itu barang yang boleh dimakan. Maka didapatinyalah ketupat yang sudah basi dibuangkan oleh orang pasar itu dengan buku tebu lalu dimakannya ketupat yang sebiji itu laki bini. Setelah sudah dimakannya ketupat itu maka barulah dimakannya buku tebu itu. Maka adalah segar sedikit rasanya tubuhnya karena beberapa lamanya tiada merasai nasi. Hendak mati rasanya. Ia hendak meminta ke rumah orang takut. Jangankan diberi orang barang sesuatu, hampir kepada rumah orang itu pun tiada boleh. Demikianlah si Miskin itu sehari-hari. Hatta, maka haripun petanglah. Maka si Miskin pun berjalanlah masuk ke dalam hutan tempatnya sediakala itu. Di sanalah ia tidur. Maka disapunyalah darah-darah yang ditubuhnya tiada boleh keluar karena darah itu sudah kering. Maka si Miskin itupun tidurlah di dalam hutan itu. Setelah pagi-pagi hari maka berkatalah si Miskin kepada isterinya, “Ya tuanku, matilah rasaku ini. Sangatlah sakit rasanya tubuhku ini. Maka tiadalah berdaya lagi hancurlah rasanya anggotaku ini.” Maka iapun tersedu-sedu menangis. Maka terlalu belas rasa hati isterinya melihat laku suaminya demikian itu. Maka iapun menangis pula seraya mengambil daun kayu lalu dimamahnya. Maka disapukannyalah seluruh tubuh suaminya sambil ia berkata, “Diamlah, tuan jangan menangis.” Maka selaku ini adapun akan si miskin itu aslinya daripada raja keinderaan. Maka kena sumpah Batara Indera maka jadilah ia demikian itu. Maka adalah suaminya itu pun segarlah sedikit tubuhnya. Setelah itu maka suaminya pun masuk ke dalam hutan mencari ambat yang muda yang patut dimakannya. Maka dibawanyalah kepada isterinya. Maka demikianlah laki bini. Hatta beberapa lamanya maka isteri si Miskin itupun hamillah tiga bulan lamanya. Maka isterinya menangis hendak makan buah mempelam yang ada di dalam taman raja itu. Maka suaminya itupun terketukkan hatinya tatkala ia di Keinderaan menjadi raja tiada ia mau beranak. Maka sekarang telah mudhorot. Maka baharulah hendak beranak seraya berkata kepada isterinya, “Ayo, hai Adinda. Tuan hendak membunuh kakandalah rupanya ini. Tiadakah tuan tahu akan hal kita yang sudah lalu itu? Jangankan hendak meminta barang suatu, hampir kepada kampung orang tiada boleh.” Setelah didengar oleh isterinya kata suaminya demikian itu, maka makinlah sangat ia menangis. Maka kata suaminya, “Diamlah tuan, jangan menangis! Berilah kakanda pergi mencaharikan tuan buah mempelam itu, jikalau dapat oleh kakanda akan buah mempelam itu kakanda berikan pada tuan.” Maka isterinya itu pun diamlah. Maka suaminya itu pun pergilah ke pasar mencahari buah mempelam itu. Setelah sampai di orang berjualan buah mempelam, maka si Miskin itu pun berhentilah di sana. Hendak pun dimintanya takut ia akan dipalu orang. Maka kata orang yang berjualan buah mempelam, “Hai miskin. Apa kehendakmu?” Maka sahut si Miskin, “Jikalau ada belas dan kasihan serat rahim tuan akan hamba orang miskin hamba ini minta diberikan yang sudah terbuang itu. Hamba hendak memohonkan buah mempelam tuan yang sudah busuk itu barang sebiji sahaja tuan.” Maka terlalu belas hati sekalian orang pasar itu yang mendengar kata si Miskin. Seperti hancurlah rasa hatinya. Maka ada yang memberi buah mempelam, ada yang memberikan nasi, ada yang memberikan kain baju, ada yang memberikan buah-buahan. Maka si Miskin itupun heranlah akan dirinya oleh sebab diberi orang pasar itu berbagai-bagai jenis pemberian. Adapun akan dahulunya jangankan diberinya barang suatu hampir pun tiada boleh. Habislah dilemparnya dengan kayu dan batu. Setelah sudah ia berpikir dalam hatinya demikian itu, maka ia pun kembalilah ke dalam hutan mendapatkan isterinya. Maka katanya, “Inilah Tuan, buah mempelam dan segala buah-buahan dan makan-makanan dan kain baju. Itupun diinjakkannyalah isterinya seraya menceriterakan hal ihwalnya tatkala ia di pasar itu. Maka isterinya pun menangis tiada mau makan jikalau bukan buah mempelam yang di dalam taman raja itu. “Biarlah aku mati sekali.” Maka terlalulah sebal hati suaminya itu melihatkan akan kelakuan isterinya itu seperti orang yang hendak mati. Rupanya tiadalah berdaya lagi. Maka suaminya itu pun pergilah menghadap Maharaja Indera Dewa itu. Maka baginda itupun sedang ramai dihadap oleh segala raja-raja. Maka si Miskin datanglah. Lalu masuk ke dalam sekali. Maka titah baginda, “Hai Miskin, apa kehendakmu?” Maka sahut si Miskin, “Ada juga tuanku.” Lalu sujud kepalanya lalu diletakkannya ketanah, “Ampun Tuanku, beribu-ribu ampun tuanku. Jikalau ada karenanya Syah Alam akan patuhlah hamba orang yang hina ini hendaklah memohonkan daun mempelam Syah Alam yang sudah gugur ke bumi itu barangkali Tuanku. Maka titah baginda, “Hendak engkau buatkan apa daun mempelam itu?” Maka sembah si Miskin, “Hendak dimakan, Tuanku.” Maka titah baginda, “Ambilkanlah barang setangkai berikan kepada si Miskin ini”. Maka diambilkan oranglah diberikan kepada si Miskin itu. Maka diambillah oleh si Miskin itu seraya menyembah kepada baginda itu. Lalu keluar ia berjalan kembali. Setelah itu maka baginda pun berangkatlah masuk ke dalam istananya. Maka segala raja-raja dan menteri hulubalang rakyat sekalian itupun masing-masing pulang ke rumahnya. Maka si Miskin pun sampailah kepada tempatnya. Setelah dilihat oleh isterinya akan suaminya datang itu membawa buah mempelam setangkai. Maka ia tertawa-tawa. Seraya disambutnya lalu dimakannya. Maka adalah antaranya tiga bulan lamanya. Maka ia pun menangis pula hendak makan nangka yang di dalam taman raja itu juga. Maka si Miskin itu pun pergilah pula memohonkan kepada baginda itu. Maka sujudlah pula ia kepada baginda. Maka titah baginda, “Apa pula kehendakmu hai miskin?” Maka sahut si Miskin, “Ya Tuanku, ampun beribu-ribu ampun.” Sahut ia sujud kepalanya lalu diletakkannya ke tanah. Sahut ia berkata pula, “Hamba ini orang yang miskin. Hamba minta daun nangka yang gugur ke bumi, barang sehelai. Maka titah baginda, “Hai Miskin, hendak kau buatkan apa daun nangka? Baiklah aku beri buahan barang sebiji.” Maka diberikan kepada si Miskin itu. Maka ia pun sujud seraya bermohon kembali mendapatkan isterinya itu. Maka ia pun sampailah. Setelah dilihat oleh isterinya itu suaminya datang itu, maka disambutnya buah nangka itu. Lalu dimakan oleh isterinya itu. Adapun selama isterinya si Miskin hamil maka banyaklah makanmakanan dan kain baju dan beras padi dan segala perkakas-perkakas itu diberi orang kepadanya. Hatta maka dengan hal yang demikian itu maka genaplah bulannya. Maka pada ketika yang baik dan saat yang sempurna pada malam empat belas hari bulan. Maka bulan itu pun sedang terang. Maka pada ketika itu isteri si Miskin itu pun beranaklah seorang anak laki terlalu amat baik parasnya dan elok rupanya. Maka dinamainya akan anaknya itu Markaromah artinya anak di dalam kesukaran. Maka dipeliharakannyalah anaknya itu. Maka terlalu amat kasih sayangnya akan anak itu. Tiada boleh bercerai barang seketika jua pun dengan anaknya Markaromah itu. Hatta, maka dengan takdir Allah Swt. menganugarahi kepada hambanya. Maka si Miskin pun menggalilah tanah hendak berbuat tempatnya tiga beranak itu. Maka digalinyalah tanah itu hendak mendirikan tiang teratak itu. Maka tergalilah kepada sebuah telaju yang besar berisi emas terlalu banyak. Maka isterinya pun datanglah melihat akan emas itu. Seraya berkata kepada suaminya, “Adapun akan emas ini sampai kepada anak cucu kita sekalipun tiada habis dibuat belanja.” Referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Buku Siswa Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAN Kelas X. Jakarta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pertiwi, 2009. Teori Apresiasi Prosa Fiksi. Bandung Prisma Press. Sudjiman, Panuti. 2006. Kamus Istilah Sastra. Jakarta Universitas Indonesia.

kata arkais dalam hikayat si miskin